BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Deskripsi
Modul
Pemeliharaan/servis Engine dan komponen-komponennya dengan kode OPKR. 20-001-2
B membahas tentang prosedur perawatan/servis engine gasoline/motor bensin
secara berkala.
Materi kompetensi yang terdapat pada modul ini merupakan sub kompetensi
dari kompetensi pemeliharaan/servis engine secara keseluruhan. Apabila siswa
menguasai sub kompetensi ini, akan mudah mempelajari kompetensi yang lainnya, terutama yang
terkait dengan perbaikan engine. Dalam dunia perotomotifan, perawatan/servis
engine secara berkala dikenal dengan sebutan Tune-up engine.
Setelah
melaksanakan modul ini diharapkan siswa dapat memahami prosedur perawatan/servis engine gasoline dan
komponen-komponennya, serta dapat melakukan perawatan/servis engine dan
komponen-komponennya secara berkala. Kompetensi yang terdapat dalam modul ini
akan membekali siswa pengetahuan dan ketrampilan serta sikap yang benar yang
terkait dengan setiap pekerjaan perawatan/servis engine secara berkala,
sehingga siswa memiliki kemampuan yang dapat diterapkan di dunia industri
perotomotifan.
Modul ini
dibagi menjadi 2 kegiatan belajar yaitu: kegiatan belajar 1 prosedur perawatan/servis engine bensin dan
komponen-komponennya secara berkala dan kegiatan belajar 2 prakteik perawatan/servis
engine gasoline dan komponen-komponennya secara berkala.
B.
Prasyarat
Sebelum memulai
modul ini, siswa harus sudah menyelesaikan modul OPKR.10-016 B tentang K3, OPKR. 10-017 B tentang penggunaan peralatan
dan perlengkapan tempat kerja, modul OPKR. 10-010 B Penggunaan dan pemeliharaan
alat ukur modul OPKR. 20-001-1 B Prinsip kerja engine dan identifikasi
komponen-komponen engine, serta modul lainnya yang harus dipelajari lebih awal
sesuai dengan peta kedudukan modul.
C.
Petunjuk
Penggunaan Modul
1.
Petunjuk
Bagi Siswa
Untuk memperoleh
hasil belajar secara
maksimal dalam mempelajari materi modul ini,
langkah-langkah yang perlu dilaksanakan antara lain:
a.
Bacalah
dan pahamilah dengan seksama uraian-uraian
materi yang ada pada kegiatan
belajar. Bila ada
materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada guru
yang mengampu kegiatan belajar tersebut. Kerjakanlah
setiap tugas formatif
(soal latihan) untuk mengetahui seberapa
besar pemahaman yang
telah dimiliki terhadap materi-materi
yang dibahas dalam setiap kegiatan belajar.
b.
Untuk
kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal
berikut ini:
1)
Perhatikan
petunjuk-petunjuk keselamatan kerja yang diberikan.
2)
Pahami
setiap langkah kerja (prosedur praktikum) dengan baik.
3)
Sebelum
melaksanakan praktik, siapkan alat dan bahan yang diperlukan secara cermat
(lihat lembar kerja).
4)
Gunakan
alat sesuai prosedur pemakaian yang benar
5)
Untuk
melakukan kegiatan belajar praktik yang belum jelas, harus meminta ijin guru lebih
dahulu.
6)
Setelah
selesai praktik, kembalikan alat dan bahan ke tempat semula.
c.
Siswa
dinyatakan lulus, bila sudah
dapat menjawab seluruh
soal dengan benar tanpa melihat buku atau kunci jawaban, serta dapat
melakukan praktik sesuai standar minimal yang
ditentukan. Bila belum berhasil siswa wajib mengulang.
d.
Bila
siswa sudah dinyatakan berhasil,
siswa bersama guru
dapat membuat rencana uji
kompetensi dengan menghadirkan
lembaga sertifikasi profesi setempat yang telah diakui keberadaannya, untuk mendapatkan pengakuan kompetensi dengan
sertifikat.
e.
Konsultasikan
dengan guru pada saat merencanakan proses belajar, saat menemui kesulitan
dalam menjawab soal-soal
maupun saat melakukan
praktik, ataupun bila memerlukan sumber belajar yang lain. Dapat mengkomunikasikan
dengan guru bila membutuhkan pendamping dari industri pada saat belajar, juga
saat akan mengerjakan modul berikutnya.
2.
Petunjuk
Bagi Guru
Dalam
setiap kegiatan belajar guru berperan untuk:
a.
Membantu
siswa dalam merencanakan proses belajar.
b.
Membimbing
siswa melalui tugas-tugas pelatihan yang dijelaskan dalam tahap belajar.
c.
Membantu
siswa dalam memahami konsep, praktik baru, dan menjawab pertanyaan siswa
mengenai proses belajarnya.
d.
Membantu
siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang diperlukan untuk
belajar.
e.
Mengorganisasikan
kegiatan belajar kelompok jika diperlukan.
f.
Membantu
siswa mencarikan pendamping dari industri bila diperlukan.
g.
Mencatat
hasil kemajuan belajar siswa.
h.
Melaksanakan
penilaian internal.
i.
Menjelaskan
pada siswa apabila ada yang perlu dibenahi dan merundingkan pada siswa rencana
pemelajaran berikutnya.
D.
Tujuan Akhir
Setelah
mempelajari secara keseluruhan materi kegiatan belajar dalam modul ini siswa
diharapkan:
1. Memahami prosedur perawatan/servis
engine bensin dan komponennya.
2. Dapat melakukan pekerjaan
perawatan/servis engine bensin secara berkala.
E.
KOMPETENSI
SUB
KOMPETENSI
|
KRITERIA
KINERJA
|
LINGKUP
BELAJAR
|
MATERI
POKOK PEMELAJARAN
|
||
SIKAP
|
PENGETAHUAN
|
KETRAMPILAN
|
|||
1.Memelihara/servis
engine dan komponen-komponennya
|
*Pemeliharaan/servis
engine
dan
komponen-komponennya
dilakukan tanpa
menyebabkan kerusakan terhadap komponen atau sistem lainnya.
*Informasi yang
benar diakses dari spesifikasi pabrik.
*Seluruh
kegiatan servise,baik proses,hasil data harus sesuai SOP,K3
|
*Komponen-komponen
engine yang perlu diperiksa/ diservis.
*Data
spesifikasi pabrik.
*Prosedur
pemeliharaan/ servis.
|
*Menerapkan
SOP dalam
pemeliharaan/servis engine dan komponennya.
*Menerapkan K3.
*Melaksanakan
kegiatan yang komplek dan tidak rutin, menjadi mandiri dan bertanggung jawab
untuk pekerjaan yang lainnya.
|
*Prosedur
pemeliharaan/
servis.
*Persyaratan
keamanan peralatan/ komponen.
*Persyaratan
keamanan dan keselamatan diri.
|
*Melakukan
perawatan/
servis engine dan
komponennya.
|
F.
Cek
Kemampuan AWAL
Sebelum siswa
mempelajari modul ini, siswa dapat mencoba mengerjakan soal-soal yang ada pada
lembar soal formatif. Bila siswa merasa dapat mengerjakan soal-soal formatif,
guru pembimbing dapat melakukan tes kepada siswa yang bersangkutan dan bila
hasilnya benar pembimbing dapat menyediakan bagi siswa tersebut modul
berikutnya. Tetapi bila siswa belum bias, maka harus melanjutkan mempelajari
modul ini.
BAB II
PEMELAJARAN
A. Rencana
Belajar Siswa
Rencanakanlah
setiap kegiatan belajar anda dengan mengisi tabel di bawah ini dan mintalah
bukti belajar kepada guru jika telah selesai mempelajari setiap kegiatan
belajar.
Jenis
Kegiatan
|
Tanggal
|
Waktu
|
Tempat
Belajar
|
Alasan
Perubahan
|
Paraf
Guru
|
1. Prosedur
perawatan/servis engine bensin.
|
|||||
2. Melakukan
perawatan/servis engine bensin.
|
B. Kegiatan Belajar
Kegiatan Belajar
1: Prosedur Perawatan/servis Engine Bensin
a.
Tujuan Kegiatan Belajar
Siswa
dapat menjelaskan komponen-komponen yang memerlukan perawatan, serta prosedur
perawatan engine bensin.
b.
Uraian Materi
Prosedur Perawatan Engine Bensin
Engine yang sudah
dioperasikan akan mengalami
perubahan fisik pada komponen-komponennya seperti pada: blok motor, kepala silinder, mekanik
katup, poros engkol, kelengkapan piston, poros nok dan
yang lainnya. Perubahan fisik tersebut dapat mengganggu kinerja engine. Untuk
mengatasi hal tersebut perlu dilakukan
perawatan secara rutin/berkala,
agar tingkat perubahan yang terjadi
dapat ditekan seminimal mungkin. Perawatan rutin
komponen-komponen engine dilakukan
tidak secara langsung pada komponen-komponen tersebut di atas, tetapi pada sistem-sistem yang
mendukung kinerja engine.
Pada industri perotomotifan
perawatan rutin terhadap
komponen-komponen engine disebut
dengan Tune-up engine. Adapun perawatan yang dimaksud meliputi:
1.
Perawatan Sistem Pendinginan
Gangguan pada sistem
pendinginan secara umum
akan berakibat meningkatnya
suhu kerja engine
yang akhirnya akan mengganggu
kinerja engine. Gangguan langsung yang dirasakan antara lain: tenaga berkurang, bahan bakar boros,
komponen-komponen engine mengalami kerusakan pekerjaan perawatan berkala pada
sistem pendinginan meliputi:
a)
Pemeriksaan tinggi
permukaan air pendingin
Periksa
ketinggian air pendingin
yang terdapat pada
tangki Penampungan (Reservoir). Jika tinggi air kurang isilah hingga
garis FULL.
![]() |
Gambar
1. Pemeriksaan tinggi air
b)
Memeriksa kondisi air pendingin
Periksalah
air pendingin kemungkinan kotor terdapat karat atau tercemar oli.
![]() |
Gambar 2.
Pemeriksaan kondisi air pendingin
c)
Memeriksa sistem pendinginan
Periksalah
kemungkinan terjadi:
1)
Kerusakan
fisik pada radiator atau slang radiator.
2)
Kerusakan
pada klem slang radiator.
3)
Kisi-kisi
radiator berkarat.
4)
Kebocoran
pada pompa air, pipa radiator (core),penguras.
![]() |
Gambar 3.
Pemeriksaan sistem pendinginan
d)
Memeriksa kerja tutup radiator
Dengan
menggunakan alat tes tutup radiator (Radiator cap tester) periksalah kondisi
pegas dan katup vakum dari tutup radiator. Tutup perlu diganti bila tekanan
pembukaan dibawah angka spesifikasi pabrik, atau jika secara fisik rusak.
Tekanan
pembukaan katup :
STD
: 0,75 – 1,05 kg/cm2
Limit
: 0,6 kg/cm2
(sesuaikan
dengan ketentuan manual)
![]() |
Gambar 4.
Pemeriksaan kerja tutup radiator
e)
Memeriksa tali kipas
1)
Tali
kipas diperiksa secara visual kemungkinan terjadi: Retak, perubahan
bentuk, aus atau terlalu keras. terkena oli atau
paslin/grease.
2)
Persinggungan
yang tidak sempurna antara tali dan puli.
![]() |
|||
![]() |
|||
Gambar
5. Pemeriksaan tali kipas secara visual
f)
Memeriksa dan menyetel tegangan tali kipas
Dengan
tekanan 10 kg/cm2, tekan tali seperti pada gambar
defleksi/kelenturan tali :
Pompa
air – Alternator : 7 – 11 mm
Engkol
– Kompressor : 11 – 14 mm
Bila tidak
memenuhi spesifikasi pabrik lakukan penyetelan tali kipas dengan SST penyetel
tali kipas.
Tegangan
tali kipas :
Baru : 100 – 150 Lbs
Lama : 60 – 100 Lbs.
(sesuaikan
dengan ketentuan manual)
Gambar 6. Pemeriksaan tegangan tali
kipas
![]() |
Gambar 7. Penyetelan tegangan tali
kipas
2.
Membersihkan
saringan udara/Air filter
Gangguan
pada saringan udara akan berakibat tenaga engine berkurang dan bahan bakar
boros. Adapun prosedur perawatannya seperti berikut:
a)
Melepas
saringan udara dari engine. Jangan sampai ada benda yang masuk ke karburator.
b)
Hembuskan
tekanan udara dari sisi dalam elemen.
c)
Bila
elemen rusak atau terlalu kotor supaya diganti.
![]() |
Gambar 8. Membersihkan elemen
saringan udara
3.
Memeriksa
Baterai
Kemampuan
kerja baterai akan mengalami penurunan seiring dengan pemakaian. Kinerja
baterai yang kurang baik akan menyebabkan: sulit untuk menstarter engine, gangguan
pada sistem penerangan dan peralatan tambahan (assesoris).
Perawatan
baterai meliputi:
a)
Pemeriksaan secara visual:
Periksa
baterai kemungkinan:
1)
Penyangga
baterai berkarat.
2)
Terminal
longgar, berkarat atau rusak.
3)
Kotak
baterai rusak atau bocor.
![]() |
Gambar 9. Pemeriksaan baterai secara
visual
b)
Mengukur berat jenis elektrolit
1)
Memeriksa
berat jenis baterai dengan hydrometer
Berat jenis
: 1,25 – 1,27 pada suhu 200 C
2)
Periksa
jumlah elektrolit pada setiap sel. Ketinggian elektrolit harus berada antara
garis Uper level dan lower level.
![]() |
Gambar 10. Pemeriksaan elektrolit
baterai
4.
Memeriksa
Sistem Pelumasan
Sistem
pelumasan merupakan bagian vital pada engine. Gangguan pada sistem pelumasan
akan berakibat: suhu engine meningkat berlebihan, komponen-komponen engine
cepat aus dan tenaga mesin akan terasa berkurang. Perawatan pada sistem
pelumasan meliputi:
a)
Memeriksa tinggi oli
Tinggi oli
harus berada antara garis L dan F, bila kurang harus ditambah, periksalah
kemungkinan ada kebocoran, dan
perbaikilah.
![]() |
Gambar 11. Pemeriksaan tinggi oli
b)
Memeriksa kondisi oli
Periksa
oli kemungkinan kotor, tercemar air atau sudah berubah warna karena terbakar.
![]() |
Gambar 12. Pemeriksaan kondisi oli
c)
Mengganti saringan oli (oil filter)
1)
Membuka
saringan oli dengan SST.
2)
Pasang
saringan oli baru dengan tangan sampai
kencang.
3)
Hidupkan
mesin dan periksa kebocoran.
4)
Matikan
mesin dan periksa tinggi oli, bila kurang ditambah.
![]() |
Gambar 13. Melepas saringan oli
![]() |
Gambar 14. Memasang saringan oli
5.
Memeriksa,
membersihkan dan menyetel busi
Busi
adalah komponen yang memberikan loncatan api untuk proses pembakaran. Bila busi
kotor, rusak akan berakibat: tenaga engine kurang, engine tidak dapat idel,
pincang dan sulit distarter. Perawatan busi meliputi:
a)
Pemeriksaan busi secara visual
1)
Kemungkinan
retak, kerusakan pada ulir atau isolator.
2)
Keausan
pada elektroda.
3)
Gasket
rusak atau berubah bentuk.
4)
Elektroda
terbakar atau kotor berlebihan.
![]() |
Gambar 15. Pemeriksaan busi secara
visual
b)
Membersihkan busi
1)
Jangan
menggunakan pembersih busi terlalu lama.
2)
Hembuskan
kompoun dan karbon pembersih dengan udara tekan
3)
Bersihkan
ulir dan permukaan luar isolator.
![]() |
Gambar 16. Membersihkan busi
c)
Menyetel
celah busi
Memeriksa
semua celah busi dengan alat pengukur celah. Jika diperlukan setelah celah busi
dengan membengkokkan elektroda busi.
![]() |
Gambar 17. Penyetelan celah busi
6.
Memeriksa
kabel tegangan tinggi
Gangguan
kabel tegangan tinggi pengapian akan berakibat: engine sulit distarter, tidak
dapat idel, pincang dan tenaga kurang. Hal ini dapat terjadi karena tahanan
kabel menjadi sangat besar. Periksalah semua kabel tegangan tinggi tahanan
kabel: kurang dari 25 kW.
![]() |
Gambar 18. Cara melepas kabel busi
![]() |
Gambar 19. Cara memeriksa tahanan
kabel busi
7.
Distributor
Gangguan
pada distributor akan berakibat kinerja sistem pengapian tidak sempurna, yang
akhirnya akan mengganggu kinerja engine: engine sulit distart, tenaga kurang,
panas berlebihan dan komponen-komponen utama engine cepat rusak. Adapun
perawatannya meliputi:
a)
Memeriksa tutup distributor
Periksa
tutup distributor serta rotor dari kemungkinan:
1)
Retak,
berkarat, kotor atau terbakar.
2)
Terminal-terminal
kotor atau terbakar.
3)
Pegas
karbon terminal tengah lemah atau macet.
![]() |
Gambar 20. Pemeriksaan tutup
distributor
b)
Menyetel celah platina atau celah udara
1)
Jika
platina aus, rusak atau terbakar ganti yang baru.
2)
Stel
celah platina : celah blok : 0,45 mm
3)
Stel
celah udara antara rotor dan proyeksi koil (pengapian elektronik). Celah
udara : 0,2 – 0,4 mm
![]() |
Gambar 21. Cara penyetelan platina
atau celah udara
c)
Memeriksa sudut Dwell
Periksa
sudut dwell dengan Dwell tester.
Sudut
dwell : 50 0 – 54 0
![]() |
Gambar 22.
Pemeriksaan sudut dwell
d)
Memeriksa saat pengapian
Stel
putaran mesin pada putaran idel, oktan selector pada posisi standar. Pada
putaran maksimal 950 Rpm saat pengapian antara 50 –15 0
sebelum TMA (sesuaikan dengan spesifikasi pabrik).
Penyetelan
pengapian dengan merubah posisi distributor serta menggunakan alat Timing
light.
Jangan
menyetel dengan Oktan selector.
![]() |
Gambar 23. Penyetelan saat pengapian
e)
Memeriksa kerja governor advancer
1)
Rotor
harus kembali dengan cepat setelah diputar searah putaran rotor dan dilepas.
2)
Rotor
tidak boleh terlalu kendor.
![]() |























